Nah, ini dia nasihat manjur dari para ibu-ibu muda di Purbalingga. Memasuki trimester ketiga kehamilan, perut saya mulai terasa berat dan penuh. Ibu-ibu di sini memberi tips, untuk menyamankan perasaan di perut yang mulai kencang dan berat, sering-seringlah berposisi nungging. Saya menerapkannya, dan memang benar, setelah sering nungging-nungging, perut terasa lebih lega dan nyaman
. Inilah contoh ‘kearifan lokal’ daerah, yang sangat berharga untuk dilestarikan
orang hamil perlu sering nungging
aroma buku baru
hore… ! Meskipun di Purbalingga belum ada toko buku, tapi ada perpustakaan daerah yang bagus di seberang alun-alun Purbalingga, sehalaman dengan kantor bupati. Koleksinya menarik, selalu diperbarui, jadi banyak buku-buku baru. Senang sekali hari ini bisa pinjam sebuah novel lama dan sebuah novel baru, bisa baca buku beraroma buku baru yang sangat saya sukai, serasa baru beli sendiri di toko buku, hehe.
malam yang tenang
menata hati
menutup hari
dalam syukur
senandung doa
buatmu malaikatku
bobo ya dalam perutku
Tuhan memberkatimu …
orang hamil kencing berdiri
hehehe, yang namanya orang hamil ternyata ada yang perlu kencing sambil berdiri. Ini saya alami sendiri, bukan mengada-ada. Selama menjalani kehamilan ini, saya berpindah-pindah tempat tinggal setiap tiga bulan (jangan tanya kenapa). Trimester (tiga bulan) pertama, saya tinggal di Jogjakarta. Trimester kedua, saya jalani di Tangerang, Banten. Trimester terakhir (saat ini) saya nikmati di kota kecil berair bening, Purbalingga, Jawa Tengah.
Sewaktu tinggal di Tangerang, tempat tinggal saya mempunyai toilet duduk. Kalau jalan-jalan ke mana-mana, juga mudah menjumpai toilet duduk. Pipis di toilet duduk tak masalah karena tiada perlulah saya berjongkok, lagi pula kehamilan di trimester kedua belum seguedhe di trimester ketiga seperti sekarang.
Saat ini, di trimester ketiga dan hamilnya mulai guedhe-guedhenya, saya tingggal di rumah bertoilet jongkok. Untuk orang sedang hamil besar, berjongkok benar-benar bukanlah perkara mudah, apalagi ringan. Jadilah saya yang sedang hamil dan notabene sering pipis, kelelahan kalau tiap kali pipis harus berjongkok. Lagipula menurut hasil search di internet, posisi berjongkok tak baik bagi orang hamil. Jadi, daripada susah-susah dan berisiko, mending kencing sambil berdiri deh
dengan pertolongan internet, bisa menjalani hobi lama di tempat baru
Salah satu hobi saya, dengerin lagu-lagu daerah Indonesia Timur, khususnya Ambon. Lagu-lagu ambon versi pop jaman sekarang ini terasa sangat manis dan romantis di telinga saya. Waktu masih di Jogja, sering banget bisa dengerin lagu-lagu ambon lewat radio Sasando, sebuah radio yang tiap sore hari memperdengarkan kumpulan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia. Setelah tinggal di Purbalingga ini, lama-lama kangen juga pengen dengar lagu-lagu ambon. Di radio lokal jelas gak ada, adanya lagu campur sari melulu. Untunglah ada youtube. Lewat search di youtube, ketemu deh video lagu-lagu ambon favoritku, seperti yang judulnya ‘Lagu Rindu’ yang lagi kudengerin ini.
Hobi saya yang lain adalah baca buku dan jalan-jalan ke toko buku, lihat-lihat buku apa yang baru terbit. Payahnya, di Purbalingga ini tidak ada toko buku! Kok bisa to, sebuah kota tidak memiliki toko buku? Jangan tanya saya! Jadi kalau biasanya di Jogja dalam seminggu bisa dua or tiga kali ke toko buku, ada yang cukup dengan berjalan kaki karena dekat rumah, di sini kalau mau ke toko buku harus ke Purwokerto, kota lebih besar tetangga Purbalingga. Lagi-lagi, untunglah ada internet. Lewat search di google, ketemulah saya dengan situs-situs tempat mendownload buku-buku menarik berbahasa Indonesia, baik terjemahan maupun tulisan asli Indonesia, baik fiksi maupun nonfiksi. Jadi deh saya memiliki buku-buku baru dalam bentuk file, bisa saya baca kapan saja.
Satu lagi, saya masih meninggalkan koleksi ratusan buku saya di tempat tinggal saya yang sebelum ini di Jogja. Kangen deh, pada koleksi buku-bukuku itu. Suatu saat kan kujemput kalian, buku-bukuku! Tentu harus kuambil sendiri ke Jogja, gak bisa lewat internet
menghayati kehamilanku
Sejak aku hamil (sudah berjalan sekitar 31 minggu, kurang lebih 7 bulan), aku jadi makin bisa merasakan betapa jiwa jauh lebih tak terbatas dibanding tubuh. Saat ini tubuh anakku ada dalam tubuhku, bahkan dia hidup dan makan lewat aliran darahku. Tapi tentu saja jiwanya tidak berada ‘di dalam’ jiwaku, walaupun tubuhnya ada dalam tubuhku. Jiwanya terhubung langsung dengan Tuhan Sang Pemberi Hidup, yang menguasai jiwa seluruh ciptaanNya. Jadi sungguh terasa nyata bahwa jiwa jauh lebih besar dimensinya daripada tubuh, dan jauh lebih tak terbatas dibandingkan tubuh.
Tubuhku terbatas sebagai wadah kepribadianku di dunia ini, tapi jiwaku sendiri tak terbatasi oleh dimensi dunia ini. Dan karena tubuh dan jiwa selalu berkaitan, maka hal-hal menakjubkan dan ajaib bisa terjadi pada tubuh manusia, seperti kehamilanku ini. Tubuh anakku masih berada di dalam tubuhku, tapi sejak Tuhan menciptakan kehidupan seorang manusia yang baru dalam diri anakku, ia sudah memiliki jiwa yang dimensinya jauh lebih luas dan tak terbatas dibandingkan dengan tubuhnya yang masih berada dalam tubuhku.
Membayangkan hal seperti ini membuatku semakin takjub akan keajaiban dari Tuhan yang bisa terjadi dalam hidupku. Sungguh misterius, ajaib dan tak terbayangkan olehku, betapa sebuah kehidupan baru bisa dihadirkan Tuhan melalui diriku. Seorang manusia bisa lahir melalui tubuhku pada saatnya nanti. Benar-benar keajaiban luar biasa yang membuatku takjub sendiri.
antara Purbalingga dan Yogyakarta, kita jatuh cinta
Pada waktunya, saat ini aku mendarat juga di Purbalingga. Walaupun kata ‘mendarat’ tidak tepat, karena di sini tidak ada bandara maupun pelabuhan kapal laut. Kalau hendak ke sini menggunakan pesawat terbang, orang biasanya mendarat di bandara terdekat yang jaraknya empat jam, bandara Adisucipto Yogyakarta. Itulah yang dijalani seorang lelaki gondrong kurus satu setengah tahun lalu, saat pulang kampung ke Purbalingga setelah bekerja selama beberapa bulan di desa Ubud, Bali. Ia naik pesawat dari Denpasar ke Yogyakarta, untuk kemudian melanjutkan menumpang bis ke Purbalingga. Saat sedang transit di Yogyakarta, lelaki ini menyempatkan diri untuk ketemu ngobrol-ngobrol sambil ngopi reunian dengan teman lamanya, seorang pria yang dulu juga gondrong kurus tetapi sekarang telah berubah menjadi gendut cepak
Pria ini kemudian memperkenalkan lelaki kurus gondrong asal Purbalingga tersebut dengan seorang perempuan cantik (hehe) dan agak gendut yaitu saya sendiri. Cerita punya cerita, saya dan lelaki gondrong kurus tersebut tak berapa lama kemudian (dalam hitungan minggu) menjadi sepasang kekasih, dan setahun kemudian menjadi sepasang suami istri yang penuh pengharapan menyongsong kehidupan baru, hahaha.
Karena awalnya tinggal di kota berbeda (saya di Yogyakarta dan dia di Purbalingga) maka pada awal berpacaran komunikasi banyak dilakukan dengan bantuan teknologi informasi, yaitu lewat telepon, sms, dan juga postingan postingan ‘gombal’ di blog ini. Awal pdkt pun dilakukan ‘antara Purbalingga Yogyakarta’. Sambil berkenalan lebih lanjut lewat SMS, saya memberitahunya alamat blog saya ini, yang langsung segera dibukanya di Purbalingga. Lewat membaca blog saya ini, dia merasa lebih banyak mengenal saya. Syukurlah, blog ini benar-benar membawa hadiah yang manis buat saya, yaitu seorang lelaki yang makin hari makin mencintai saya, dan kemudian menikahi saya, hehe.
Saat ini, saya sudah tinggal di Purbalingga dengan suami saya yang masih kurus tapi sudah tidak gondrong karena disuruh potong rambut oleh mertuanya (tapi sekarang dia tidak boleh potong rambut lagi, harus dipanjangin agar gondrong kembali seturut permintaan istri yang lebih menyukainya gondrong, haha). Dan yang lebih indah lagi, beberapa bulan mendatang akan hadir anak pertama kami, yang saat ini sedang menendang-nendang geli dalam perut saya
mas luliku …
(puisi darimu, kumuat di sini ya…)
Dalam hangat sejuk pagi
di antara pohon-pohon pinus tua
kutemukan kerinduanku
di bening lembut
basah tatap matamu
kudapati cinta yang kunanti
di hangat kasih tulus senyummu.
Dalam hangat sejuk pagi
kubersyukur
kekasih dambaan hati
mendekapku dalam kasih cinta abadi.
(kau tulis di Purbalingga, Maret 2010, untuk mengenang satu pagi di Baturraden, Maret 2009)
indah yang kau tanam
tiga melati
yang kau kirim setahun lalu
wanginya senantiasa
penuhi ruang hatiku
tak terasa setahun sudah
indah yang kau tanam
tumbuh semakin nyata
mekar dalam asa dan percaya
karena kita yakin
akan semakin indah …
daun pisang

daun pisang
sering dilupakan orang
dianggap sepele
padahal sangat cantik
warnanya cerah
permukaannya sangat luas
bisa jadi payung di kala hujan
alas duduk atau alas meja
buat bungkus makanan sangat oke
makanan jadi wangi
dan aman terhadap lingkungan
gak kayak stirofoam
buat alas makan sangat keren
saya nonton di Asian Food Channel
di India ada restoran
yang menyuguhkan nasi lemak
di atas daun pisang
langsung di atas meja
tanpa piring
saya jadi ingat kalo di kampung dulu
pesta orang mati Rambu Solok
rame-rame makan nasi dan papiong babi
beralas daun pisang yang luas
satu daun rame-rame